BERITA12PAS.COM- Menata ulang pembinaan sepak bola usia muda di daerah pada umumnya di Indonesia bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak yang harus segera diwujudkan. Selama bertahun-tahun, pendekatan instan yang berorientasi pada hasil jangka pendek justru menghambat lahirnya fondasi kuat bagi perkembangan sepak bola nasional. Sudah saatnya kita berani melakukan reformasi menyeluruh—beralih ke sistem pembinaan yang terstruktur, berbasis sains, dan berorientasi pada pembentukan karakter pemain sejak dini.
Sebagai pelaku di bidang manajemen olahraga, Saiful Alief Subarkah yang akrab disapa SAS melihat bahwa potensi anak-anak di daerah sangat besar, namun belum didukung oleh sistem yang memadai. Banyak talenta muda yang berkembang tanpa kurikulum latihan yang jelas, tanpa pemantauan perkembangan fisik dan mental, serta minim akses terhadap pelatih yang tersertifikasi. Akibatnya, perkembangan mereka tidak optimal dan sering kali terhenti di tengah jalan.
Pendekatan berbasis sains menjadi kunci penting dalam reformasi ini. Program latihan harus disusun sesuai dengan fase pertumbuhan anak, mengedepankan aspek teknik, taktik, fisik, dan psikologis secara seimbang. Selain itu, penggunaan data dan evaluasi berkala perlu diterapkan untuk memastikan setiap pemain berkembang sesuai potensinya. Ini bukan sekadar tren, melainkan standar global yang harus kita kejar jika ingin bersaing di level yang lebih tinggi.
Namun, pembinaan sepak bola tidak hanya soal kemampuan teknis. Karakter adalah fondasi utama yang harus dibangun sejak usia dini. Disiplin, kerja sama, sportivitas, dan mental tangguh adalah nilai-nilai yang harus menjadi bagian dari setiap sesi latihan. Tanpa karakter yang kuat, pemain berbakat sekalipun akan sulit bertahan dalam tekanan kompetisi.
Peran stakeholder lokal juga sangat menentukan. Pemerintah daerah, sekolah, akademi, dan komunitas harus bersinergi menciptakan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan. Investasi pada fasilitas latihan, peningkatan kualitas pelatih, serta kompetisi usia muda yang rutin dan terstruktur harus menjadi prioritas bersama.
Kita tidak bisa lagi bergantung pada bakat alam semata. Sepak bola modern menuntut sistem yang rapi, visi jangka panjang, dan komitmen kolektif. Jika pembinaan usia muda di daerah mampu ditata ulang dengan serius, bukan tidak mungkin Indonesia akan melahirkan generasi pesepak bola yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter kuat dan mampu bersaing di kancah internasional.
Inilah momentum kita untuk berubah. Bukan dengan langkah setengah hati, tetapi dengan tekad kuat untuk membangun masa depan sepak bola Indonesia dari akar yang paling mendasar.
